Kamis, 23 Agustus 2012

Dunia Per-Film-an Kita lah PELAKUNYA...!!!!!



Hai para penggemar blogger,….
Maaph nih ye,….Udah lamaaaaaa banget sejak postingan terakhir muncul,….soalnyakan ketabrak sama idul fitri,….eh iya saya jugaselaku blogging mau meminta maaph sama para pembaca jika mungkin  ada salah-salah kata yang tercantum dalam blog saya ini,….insya Allah saya tidak sengaja,…MAAPHIN YEEE…
So, langsung  ajakita ke content-nya oke,…
Hari ini penulis mau membicarakan tentang ironisnya dunia per-film-an Indonesia saat ini.Film pada zaman sekarang sudah sangat menggila dengan altar yang juga berbeda-beda.Mulai dari film horor, komedi, telenovela, stripping, drama, dan masih banyak lagi. Dahulu sebelum menginjak tahun 2000-ankita para pendidik dan bagianda yang merupakan orang tua, masih bisa menyaksikan sebuah film dengan perasaan tenang dan nyaman. Tetapi menginjak tahun 2001 dan seterusnya terutama sampai sekarang, memilih film adalah hal yang paten dilakukan oleh para orang tua dan pendidik. Hal itu dikarenakan adanya sebuah perubahan baik dibidang inti, pemain dan fitur yang ada pada dunia per-film-an saat ini.Dimulai dari tahun sekitar 2001-an. Pembaca pasti ingat dong tentang sinetron “Bidadari” yang pemeran utamanya itu adalah Marshanda. Dari sana dibuka sebuah perilaku seorang ibu tiri dan saudara tiri yang kejam dan suka menyiksa seorang anak. Tidakhanya itu, bahkan latar belakang sekolah pun penjadi sebuah bahan pokok pembuatan film Bidadari itu.Sosok teman sekolah yang kejam dan berbuat hal-hal yang jika kita pikirkan saat ini sangat tidak masuk akal dilakukan oleh seorang anak SD hingga SMP. Adegan-adegan yang berbentuk kekerasan fisik dan non fisik pun menjadi bahan utama dalam membuat film tersebut menjadi diminati oleh para penonton. Mulai dari menampar, menjambak, memukul, dan berkata-kata kotor.
Memasuki era 2005, mulailah acara-acara bertema remaja berhujanan baik di film maupun di bioskop-bioskop, adegan seorang anak melawan orang tua, adegan seorang anak yang pergi ke diskotik, dan sebagainya. Sinetron tersebut menjadi baru dimata para penonton dengan gaya modernnya yang kental dan disertai dengan tokoh-tokoh kayalan layaknya bidadari. Tetapi seperti yang kita ketahui, selera yang selalu berubah-ubah membuat penonton jenuh dengan cerita yang ini dan itu. Akhirnya ratingnya pun menurun drastis dan membuat film tersebut harus berganti tokoh dari Marshanda menjadi Alissa Soebandono dipertengahan cerita.
Adanya sinetron yang menunjukkan kekerasan pada anak membuat beberapa pihak pada akhirnya membuat cerita yang berbeda dengan yang biasanya. Pada akhirnya, munculah berbagai macam sinetron yang menggambarkan tentang anak yang melawan orang tuanya dan membentak-bentak orang tuanya. Parahnya, orang tua yang tidak menyadari hal tersebut membiarkan anak-anaknya melihat tayangan seperti itu. Bukannya hal tersebut membuat keadaan real menjadi baik tetapi tayangan tersebut malah membuat banyak anak remaja pada saat itu terbawa kearah dimana latar sinetron tersebut terjadi. Maka timbulah kasus-kasus seorang anak kawin lari, hamil diluar nikah, dan yang paling menghebohkan adalah kasus dimana seorang anak membunuh orang tuanya karena keinginanya tidak dituruti. Tentu saja keadaan tersebut membuat perubahan yang sangat mengerikan, terutama untuk kedepannya. Oleh karena itulah ada beberapa sutradara yang peduli dengan hal tersebut dan menyangkan sebuah film yang bernuansakan religi kepada khalayak umum. Tayangan tersebut tentunya harus bersifat mengembalikan norma-norma yang telah hilang kepada para anak-anak. Tayangan tersebut biasanya menceritakan tentang akibat dari seorang anak yang durhaka kepada orang tuanya. Salah satu tanyangan tersebut adalah Misteri Ilahi, Pintu Taubat, dan lain-lain. Pada awalnya tayangan tersebut mendapatkan respon yang baik dari orang-orang. Tetapi, ada titik lemah dari tayangan tersebut, yaitu anak-anak yang menonton menjadi terintimidasi dengan tayangan yang berbau religi tersebut selain itu masih juga ditemukan kata-kata kotor yang ditemui dalam tayangan tersebut. Di sinilah pemerintah mulai memberikan solusi kepada seluruh kantor perfilman dengan memberlakukan auditing dan seleksi ketat terhadap semua film yang akan ditayangkan distasiun televisi nasional. Selain itu pemerintah juga memberlakukan label D (Dewasa), R (Remaja), BO (Bimbingan Orang tua), dan SU (Semua Umur) pada setiap film yang lolos. Sehingga dapat dipastikan tidak ada kesalahan dalam tanyangan tersebut baik dari segi kelayakan dan kalangan.
LALU APAKAH KEBIJAKAN TERSEBUT BERHASIL ???
Yap,..betul sekali jawabannya TIDAK. Kenapa ? hal tersebut masih saja memiliki kelemahan yaitu adanya sifat normalisasi yang telah luntur pada hampir setiap orang tua sehingga anak menjadi bebas menonton film-film tersebut. Seperti contoh adanya tayangan kekerasan dalam sekolah seperti SD, SMP, dan SMA membuat fakta yang miris tentang kasus yang dulu muncul. Seperti yang telah terjadi pada tahun 2009 yang lalu, seorang anak SD menusuk temannya sebanyak Sembilan kali dengan pisau dapur karena tidak dipinjami Hanphone. Lalu adanya GENG yang dibentuk oleh siswa/i SMP dan SMA dan berakibat adanya kekerasan dalam kelompok sendiri serta berbagai macam tawuran. Bahkan yang paling parah adalah anak SD kelas 1 saja sudah berani berciuman. Bagaimana saya bisa mengatakan hal tersebut?. Pekerjaan sampingan saya adalah sebagai seoranng guru. Pada saat saya mengajar di rumah saya sendiri, sepasang adik kakak yang bersekolah di sekolah swasta X di Mojokerto rebut sendiri membicarakan tentang pacar mereka masing-masing. Si kakak duduk di kelas 3 dan si adik duduk di kelas 1. Hal yang paling membuat saya miris adalah si kakak bilang kalau si adik pernah mencium dan dicium oleh pacarnya. Saya kaget setengah mati, padahal umur juga belum lengkap 7 tahun, permainan saja masih mobil-mobilan yang pakek batrai, tapi mereka sudah mengerti arti pacaran. Yang tidak kalah kacaunya adalah si kakak lalu berkata,
“Aduh mas, aku lho kangen sama pacarku. Tadi di sekolah aku ketemuan sama anaknya trus duduk bareng-bareng di balkon sekolah. Anaknya tadi pegang tanganku”.
Bagaimana mungkin anak kelas 3 SD bisa bilang seperti itu pada guru lesnya. Saya hanya diam dan tidak memperdulikannya (semoga Allah memberikan perlindungan kepada murid-murid saya). Tidak hanya itu, bahkan sekitar 90% murid saya juga sudah mengerti tentang arti kata “CIUMAN dan PACARAN”.
Inilah para pembaca, mirisnya dunia perfilm-an saat ini telah meracuni pikiran-pikiran anak-anak kita. LALU BAGAIMANA SOLUSINYA ???? hal itulah yang masih menjadi koreksi bagi kita semua bahkan bagi diri saya sendiri……
Jika memiliki saran silahkan saya minta sarannya juga untuk bahan referensi saya menulis content selanjutnya. Silahkan saran-saran para pembaca ke E-mail saya, jika nanti banyak yang memberikan saran, maka saya akan mencantumkan nama dan identitas dari si pemberi saran….
Yaa,…. Sekian dulu yaaaaa tunggu Content berikutnya,…….^o^ (fariham.masula@yahoo.com or masulafariham@gmail.com)

0 komentar: